Selasa, 01 November 2011
0
komentar
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Meningkatnya kasus penyakit jantung dan kolesterol di Indonesia ternyata sangat berhubungan erat dengan pola makan atau meal patterns orang Indonesia yang sangat sulit diubah.
Widjaja Lukito, dokter spesialis gizi klinik yang juga sekretaris anggota Dewan Pertimbangan Presiden bidang kesejahteraan rakyat menjelaskan, pola makan orang Indonesia yang sangat berhubungan erat dengan etnik, faktor tradisional, cara penyajian, dan segi ekonomi membuat makanan yang dikonsumsi minim serat dan tidak sehat.
"Seperti contohnya santan kelapa, paling banyak dipakai masyarakat dari berbagai etnik untuk memasak. Padahal efeknya kurang baik untuk tubuh. Sementara untuk dihilangkan sama sekali tidak mungkin. Ini menyangkut daya beli dan keadaan lingkungan juga," jelas Widjaja yang ditemui dalam seminar tentang kolesterol minggu lalu di Jakarta.
Begitu juga dengan presentase dietary fiber orang Indonesia, menurut Widjaja bila ditemukan ada orang yang konsumsi fibernya 12 persen saja sudah sangat baik sekali di Indonesia. "Padahal di luar rata-rata 25 persen," tambahnya.
"Ini yang membuat penyakit degeneratif semakin banyak kasusnya. Sebab kita sangat sulit mengubah meal patterns orang Indonesia. Bayangkan saja food compotition kita saja tidak pernah berubah, kalau pun berubah hanya seputaran itu-itu saja. Tidak berkembang. Bila memang ingin melakukan perubahan setidaknya para ahli di Indonesia, seperti ahli jantung, ahli gizi dan nutrisi semua harus duduk bersama membicarakan ini," kata Widjaja.(Sumber: Sehatnews.com)
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON - Anda memiliki masalah gangguan tidur? Jika demikian, anda harus berhati-hati. Penelitian terbaru yang dilaporkan di Jurnal Asosisasi Jantung Amerika, menyebutkan insomnia menyebabkan resiko tinggi pada serangan jantung.
Dalam penelitian terbaru, resiko serangan jantung pada insomnia meningkat dari 27 persen menjadi 45 persen dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki gangguan tidur.
Lars Erik Laugsand MD dan timnya dari Universitas Sains dan Teknologi Norwegia membagi insomnia menjadi tiga golongan. Kesulitan tidur sepanjang malam menyebabkan resiko serangan jantung 45 persen lebih tinggi. Jika tidur anda tidak nyenyak, anda memiliki resiko serangan jantung 30 persen lebih tinggi. Bagi anda yang tidak terbangun dengan perasaan segar lebih dari seminggu, peneliti menyebutkan resiko serangan jantung sekitar 27 persen.
Jelas sekali hubungan antara insomnia dan resiko sakit jantung, katanya. Orang dengan pola tidur kurang, akan mengalami tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi menjadi faktor yang cukup tinggi pada serangan jantung. Begitu dekatnya hubungan antara insomnia dan serangan jantung, Laugsand menyarankan bagi para penderita insomnia untuk berkonsultasi dengan dokter.
Penelitian ini dilakukan pada 52.610 orang dewasa Norwegia yang menjawab kuisioner tentang insomnia sebagai bagian dari survei kesehatan nasional di tahun 1995-1997. Peneliti memeriksa catatan medis dan mengidentivikasi penyebab serangan jantung pada sekitar 2368 orang selama 11 tahun.
Hampir 33 persen orang pada umumnya mengalami setidaknya satu gejala insomnia. Mereka mengatakan depresi dan kecemasan menjadi dua hal yang menyebabkan insomnia. Setiap tahun, sekitar 785 ribu orang Amerika mengalami serangan jantung.
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Meskipun bukan menjadi penyebab utama serangan jantung, menghirup udara yang penuh polusi akan meningkatkan risiko serangan jantung. Risiko ini meningkat enam jam setelah menghirup polusi.
Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan 20 ribu kasus serangan jantung di Inggris dan Wales dengan data polusi udara di daerah tersebut. Hasilnya menunjukkan zat yang terkandung dalam asap knalpot kendaraan dapat memicu terjadinya serangan jantung.
Direktur Asosiasi Jantung Inggris, Jeremy Pearson, mengatakan risiko serangan jantung terjadi setelah 6 jam dan kemudian menurun. "Kita tahu polusi memiliki akibat yang buruk bagi kesehatan. Ia dapat membekukan darah dan meningkatkan risiko serangan jantung," ujarnya sebagaimana dilansir BBC, Rabu (21/9).
Pemimpin penelitian ini, Krishnan Bhaskara, mengungkapkan memang polusi bukanlah pemicu utama serangan jantung, tetapi hal tersebut perlu dihindari. Diet yang tidak sehat dan rokok adalah pemicu utama serangan jantung. "Dianalogikan seperti sepotong kue, polusi menjadi krim dalam kue pemicu serangan jantung," ujarnya.
Masyarakat sebisa mungkin untuk tidak mendekati wilayah yang tingkat polusinya tinggi dan menerapkan hidup sehat. Bagaimana dengan polusi di Jakarta?
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anda pernah ayau bahkan sering merasakan detak jantung Anda tak teratur? Jika iya, sebaiknya Anda perlu waspada karena detak jantung yang tidak teratur atau "atrial fibrillation" (fibrilasi atrium) merupakan salah satu faktor risiko stroke.
Gejala ini belum banyak diketahui masyarakat di Indonesia. Padahal risikonya lebih besar daripada faktor risiko yang lain.
"Fibrilasi atrium merupakan salah satu faktor risiko utama stroke iskemik dan individu yang penderitanya memiliki risiko stroke lima kali lipat dibandingkan dengan populasi umum," kata Dr.dr. Yoga Yuniadi, SpJP(K) dalam media briefing memperingati Hari Stroke Sedunia di Jakarta, pekan lalu.
Terdapat lima faktor risiko stroke utama yang dapat dikelola untuk mencegah stroke yaitu tekanan darah tinggi (hipertensi), kebiasaan merokok, kurangnya aktivitas fisik, diabetes dan fibrilasi atrium.
Stroke atau sering disebut penyakit jantung merupakan penyebab kematian tertinggi untuk kategori penyakit tidak menular dimana diperkirakan satu orang di dunia meninggal tiap enam detik karena stroke atau hampir enam juta orang pertahunnya.
Selain angka kematian yang tinggi, penderita stroke yang selamat kemudian menderita cacat fisik yang tidak hanya menurunkan kualitas hidup mereka, melainkan juga kehidupan keluarga dan orang-orang di sekelilingnya. Begitu juga implikasi ekonomi yang disebabkan para penderita tidak dapat menjadi produktif sepenuhnya.
Sementara itu, masyarakat diminta untuk mewaspadai detak jantung yang tidak teratur itu karena jika terkena stroke, dampaknya biasanya lebih parah dibandingkan dengan faktor risiko yang lainnya.
"Serangan stroke yang terkait dengan fibrilasi atrium ini umumnya lebih berat, dampaknya lebih buruk dan perawatannya lebih lama dibandingkan dengan pasien yang tidak memiliki fibrilasi atrium," ujar Yoga. (Sumber: Sehatnews.com)
Liputan6.com, Jakarta: Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bern, Swiss, membeberkan misteri Yayasan New7Wonders, penyelenggara tujuh keajaiban dunia yang di antaranya menomisasikan Taman Nasional Komodo. Bahkan, Duta Besar RI di Swiss Djoko Susilo menegaskan bahwa pihaknya meragukan Yayasan New7Wonders
"Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bern, Swiss, merasa perlu untuk memberikan penjelasan sebagai berikut," kata Djoko dalam surat elektronik bertanggal 31 Oktober 2011. Dan inilah kronologi yang dimaksud Djoko.
1. Desember 2007, N7W mengumumkan peresmian kampanye. Pada tahap awal terpilih tiga destinasi wisata Indonesia dan yang masuk nominasi adalah Taman Nasional Komodo, Danau Toba, dan Anak Gunung Krakatau, bersama dengan 440 nominasi dari 220 Negara.
2. Agustus 2008, Indonesia mendaftar sebagai OSC dan membayar biaya administrasi masing-masing destinasi USD 199.
3. Pada 21 Juli 2009, Taman Nasional Komodo menjadi Indonesia National Nominees dan menjadi salah satu dari 28 nominasi finalis.
4. Februari 2010, pihak N7W menawari Indonesia untuk menjadi tuan rumah deklarasi N7W yang akan dilaksanakan pada 11 November 2010.
5. Setelah menjajaki dan beberapa kali mengadakan pertemuan, pada 25 November 2010 Indonesia menyatakan berminat menjadi tuan rumah.
6. Pada 6 Desember, pihak N7W menyetujui Indonesia sebagai tuan rumah dengan liscense fee sebesar 10 juta dolar AS.
7. Pada 29 Desember 2010, N7W mengeluarkan ancaman melalui Kepala Komunikasi N7W Eamon Fitzgerald yang memberikan batas waktu sampai 31 Januari 2011 kepada pemerintah Indonesia, untuk menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah. Jika sampai batas waktu itu tidak ada ketegasan, maka N7W akan menangguhkan status Taman Nasional Komodo sebagai finalis N7W.
8. Todung Mulya Lubis, kuasa hukum Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (dahulu Kembudpar) RI, pada 2 Februari 2011 melayangkan surat elektronik kepada N7W dan memprotes rencana eliminasi TNK sebagai finalis. Lima hari kemudian, surat itu ditanggapi pengacara N7W yang beralamat di London. Isinya, TNK tidak tereliminasi, melainkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenbudpar) tak lagi bisa menjadi official supporting committee (OSC).
9. Pada 11 Februari 2011, Todung Mulya Lubis mengirim surat via e-mail lagi dan meminta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenbudpar) untuk kembali menjadi OSC. Surat kedua itu tidak dijawab.
10. Tetap masuknya TNK sebagai finalis tanpa keikutsertaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenbudpar) sebagai OSC itu membuat harga diri bangsa dilecehkan. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang mewakili Pemerintah Indonesia tak boleh ikut mempromosikannya.
11. Pekan lalu, Maldives (Maladewa), satu dari 28 finalis, menarik diri dari kompetisi yang diselenggarakan N7W itu. Negara kepulauan kecil dekat Sri Lanka itu menarik diri karena urusan finansial yang dibebankan N7W.
12. Pada 28 April 2011, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kratif mengutus satu delegasi beranggotakan delapan orang yang terdiri dari pejabat kementerian, seorang pengacara dari Kantor Pengacara Lubis, Santosa & Maulana, dan beberapa wartawan nasional untuk menyelidiki keberadaan N7W.
13. Duta Besar RI untuk Konfederasi Swiss dan Keharyapatihan Liechtenstein, membantu delegasi dari Jakarta untuk penyelidikan itu. Duta Besar Djoko Susilo sejak pertama kali datang di Swiss telah berhubungan dengan pemimpin redaksi harian nasional Swiss dan selalu mempertanyakan kredibilitas Yayasan N7W. Sangat diherankan para pemimpin redaksi harian nasional Swiss tidak mengenal keberadaan Yayasan N7W.
14. Tim dari Jakarta yang dibantu staf KBRI Bern mengadakan kunjungan ke alamat yang tertulis sebagai kantor Yayasan N7W: Hoschgasse 8, PO Box 1212, 8034 Zurich. Ternyata kode pos dari alamat yang diberikan tidak sesuai. Seharusnya alamat itu adalah: Hoschgasse 8, PO Box 1212, 8008 Zurich, di mana terdapat Museum Heidi Weber yang diarsiteki Le Corbusier dan selesai dibangun pada 1967. Museum itu hanya buka pada musim panas (Juni, Juli, Agustus) dari jam 14.00-17.00.
15. Tim dari Jakarta juga mendatangani kantor Pengacara Patrick Sommer dari Kantor Pengacara CMS von Erlach Henrici Ltd, untuk mendapatkan bantuan.
16. Sebagai yayasan, keberadaan N7W cukup unik. Yayasan ini tak jelas alamatnya, kecuali alamat e-mail-nya, hanya tertulis N7W berdiri di Panama, berbadan hukum Swiss, dan pengacaranya berada di Inggris.
17. Masyarakat Swiss sendiri tidak mengenal Yayasan N7W, dan yayasan ini bukan bagian dari UNESCO.
18. Sebagaimana diketahui, pada 1991, Taman Nasional Komodo bersama Taman Nasional Ujungkulon, Candi Borobudur, dan Candi Prambanan, oleh UNESCO dimasukkan sebagai warisan dunia. Karena reputasi UNESCO sebagai badan khusus PBB yang didirikan pada 1945 itu jauh melampaui N7W, ada baiknya kita tidak terpancing oleh aturan main N7W. (Ant/SHA)
Personil Super Junior Kyuhyun secara tidak sengaja mengakui telah menjalani dua kali operasi plastik di kelopak matanya. Pada episode ‘Golden Fishery Radio Star’ yang ditayangkan pada tanggal 26 kemarin, MC menanyakan pada penyanyi Kim Gun Mo dalam hal rumor operasi plastik. Kim Gun Mo dengan cepat menunjukkan matanya pada sang MC, dan begitu mereka memberitahunya bahwa ia akan terlihat lebih baik tanpa kelopak mata ganda, ia mengatakan, “Itulah sebabnya aku tidak menyelesaikannya.”
MC kemudian mengalihkan perhatian mereka pada Kyuhyun, dan bertanya bagaimana ia memperoleh kelopak mata ganda tersebut. Terkejut dan bingung, Kyuhyun mulai gagap dan tidak bisa berbicara dengan jelas. Terkejut, MC kemudian ‘mengorek’ lebih dalam mempertanyakan apakah dia telah menjalani operasi plastik.
”Kedua orang tua saya memiliki kelopak mata ganda,” jelasnya. “Saya adalah satu-satunya yang tidak memilikinya,” lanjutnya, yang secara tidak langsung mengakui operasi plastik tersebut.
Jumat, 28 Oktober 2011
0
komentar
